Gelas retak

Retak pada gelas kaca itu mengingatkan pada sebuah lukisan masa silam yang terlupakan tersimpan dibalik pintu yang mengarah ke barat itu

Tertinggal usang, semakin ku berbisik, bisikan namamu retakan itu semakin jelas

Pernah kucoba menghiasnya dengan emas, tapi emasnya memudar seiring laju waktu yang tak dapat kuingkari

Pernah suatu ketika ingin ku meminum segelas air, dari gelas yang retak itu, setiap air yang kuminum terasa asin, airnya berubah keruh, itu pertanda berbisik namamu akan mengundang badai

Advertisements

Bilah bambu

Aku menemukanmu di sebilah bambu, begitu ku pegang tanganku terasa gatal, dadaku sesak oleh bias.

Namamu adalah sembilu yang terpatri di kedalaman jiwa. Luka yang kering kini kembali basah, kubasuh dengan segenggam harapan yang telah mengendap.

Ada namamu di bilah bambu.

Ada yang merindukan mu

Ada sesuatu yang berbisik dibalik pintu ruang itu, ruang tersembunyi di salah satu bagian tubuhku, hei kamu, sajakan satu saja tentang sore ini. Apakah kamu masih mencintai senja seperti dahulu? Membayangkan mataharo terbit esok dengan hati yang haus akan pengembaraan.

Hanya ingin memberitahu sesuatu, ada yang merindukanmu, di dalam ruangan ini. Ia ingin kau bawa menari, menari menembus awan, larut dalam sukma yang sempat kau tinggalkan tuk jelajahi hutan yang gagal kau takhlukan itu.

Kembalilah kemarilah ia merindukan tawamu, menanti binar matamu, menarilah bersama bintang, bermandikan cahaya bulan, kembalilah.. Disini jalanmu. Lentera mu yang kau tinggalkan demi hutan tak bersahabat itu..

Aroma hujan

Aroma hujan melambungkan sebait sajak tentang kau dan aku di masa kita melangkah berderap berlomba menuju lonceng berbunyi itu, menembus angin dan debu pagi hari senin. Berharap seuntai senyum menjadi semangat kalbu tuk meraih mimpi mengukir cita.

Bersamamu di setiap pagi melewati banyak senja dan ribuan purnama, bertamasya di lautan bintang, aku larut dalam genggam tanganmu, menyelami dunia di balik matamu. Membasuh rambutmu membisikan sajak penuh wangi bunga

Aroma yang tak lekang oleh waktu terbawa hujan melambungkan ingatan tentangmu dan tentangku kala itu kau ukir namaku di sehelai daun yang mengering di pohon berumur 1000 tahun itu..

Piala tanpa restu

Bukan puisi bukan pula narasi.. Merindukan masa kejayaan dahulu memeluk piala dengan rasa bangga memenuhi relung hati

Puisi menjadi bagian dalam hidup sejak itu, entah kapan aku merasa pilu ketika piala itu akhirnya hanya sebuah pajangan yang duduk di atas lemari tanpa restu

Sudah lama tidak berpuisi

Sudah lama tidak bernarasi

Kini insting yang kaku itu kembali hidup..

Karena yang aku tahu

Aku sudah mencintaimu sejak aku mengenal tulisan

Teruntuk jiwaku yang paling dalam

Dunia Sastra…

2018

Merajut asa

Perlahan ku menarikan benang berwarna merah diatas kain putih itu, kuselami setiap arahnya sama seperti dua tahun silam.. Kucermati jiwa kain putih itu. Sakit tertusuk jarum namun tak lama terbentuk sulaman indah

Sayangnya..

Aku sudah tidak merajut lagi

2018

Elegi dua masa

Kutemukan sebuah sajak di dalam jiwa yang dingin membeku kala itu, ku mencoba membaca dan menterjemahkan lewat bahasa angin, seperti angin.. Seketika menghilang berlari menembus awan

Kala itu kedua mata tertuju pada langit berhias ranting-ranting pohon di musim semi, melayangkan sebuah lamunan berupa bisikan narasi lewat lembayung sore itu. Kau adalah catatan usang masa dimana sudah berapa malam kulewatkan lewat musik kenangan, menggoreskan cerita baru dalam sebuah sajak yang kini kau bawa kau tulis dalam rona pipimu ketika memandang ku dahulu..

Ada yang berbeda dari kopi hari ini. Ada beban di balik rasa manis , ada sesuatu yang tersembunyi pada aroma hari selasa. Menawar racun yang keluar lewat derasnya air mata yang kini berubah menjadi tatapan hampa jiwa yang terlalu lama mengembara rindu akan kepastian arah

2018

Lingkaran

Aku bergerak perlahan menuju sesuatu tanpa batas, ketika menarik kedua bola mataku ke arah langit, yang aku tahu sesuatu tanpa batas itu.

Aku terlalu sibuk mengamati langit hingga lupa bahwa di kedalaman paling dalam masih banyak misteri yang semakin kedalam semakin kelam

Jiwa menari perlahan ditengah kabut pukul 2 siang hari itu, oh inikah rasanya menari dalam sesak?

Saat itu kusadari yang menari bukanlah diriku. Melainkan seseorang yang tinggal di dalam rumah dikepalaku.

Ada rantai besi disekeliling ruang yang lain, semakin hari semakin membelit, bahkan mendobraknya pun sulit.

Ada hal lain di dasar ruangan tersembunyi di dalam diriku. Kusadari ternyata aku memiliki ruang khusus itu hanya ketika kuterlelaplah pintu itu terbuka

Ku masuk kedalam sana kudapati ada seorang gadis kecil meringkuk ketakutan, bertelanjang kaki pandangan sayu. Ku bertanya sedang apa engkau disini dan gadia kecil itu berkata aku ingim pergi dari sini tapi aku ketakutan, di depan pintu itu ada sesuatu yang menakutkan, ada bayangan hitam disana membawa celurit panjang, aku takut, jangan paksa aku. Aku sudah terbiasa di dalam ruangan ini tapi aku kesepian. Aku berteriak meminta tolong tak ada yang mendengar. Kau hanya datang ketika pintu ini memang terbuka.

Jelas sudah mengapa selama ini aku berjalan seperti tak berpijak. Aku kedinginan disaat panas terik, aku menangis ketika tertawa.

Gadia kecil di ruangan itu, dilingkaran yang tak dapat ditembus bahkan waktu sekalipun

Sajak di wajahmu

Satu wajah dalam rangkaian montase tertutup kabut bahkan sinar mentari pun memaksa masuk di sisi awan kelabu untuk menampakan wajahmu sang pria bermata dingin itu

Tercium wangi bunga teratai kuning dari balik angin, berbisik seakan membius darah di dalam nadiku ingin menuliskan namamu kemudian mengalir hingga seluruh tubuh membawa satu film tentang cerita usang yang telah tertinggal jauh dibelakang sana

Ada sebait sajak di wajahmu, dan kubaca melalui matamu dibalik pintu, kudengar sayup-sayup suaramu diantara dedaunan gemerisik dihantam sayap burung merpati seolah ingin menyadarkanmu bahwa ada aku disini berdiri menatapmu dari mata sang bintang

Ada sajak di wajahmu.. Yang enggan disapa itu, sedikit berbicara tentang hatimu. Menyentuh hatimu seolah aku baru pulang dari perjalanan mengelilingi pegunungan perak di swedia,

Tak adakah waktu yang tersisa untukku untuk membaca sajak di wajahmu?