Trijata

Kuletakan sebuah gelas di atas meja kayu yang warnanya mulai pudar dimakan masa, kudengar denting demi denting berbisik lalui angin bulan juli, ku membaca disetiap bening yang terlihat jelas 

Sebuah pantulan

Pantulan lembaran masa yang berjalan seperti sebuah film pendek yang diputar terus menerus, sebutkan sajak-sajak yang sempat kutulis sejak dahulu

Kutahu pasti bahwa pasir-pasir yang berubah menjadi butiran debu yang menderu terbawa angin.. Berkelana menyusuri cahaya senja, lewati ribuan fajar, menyusuri lautan bintang. 

Sajak itu.. Tinggalkan jejakku dan jejakmu ku tempuh jelajahi waktu seperti film lama kini diputar kembali oleh ingatan yang sempat hilang diantara kabut malam..  

Kau sajak lama yang kutulis di langit malam pukul 12… 

Rumit itu…

Apa hebatnya mendapatkan raganya tapi tidak mendapatkan cintanya 

Apa istimewanya mendapatkan hatinya tapi tidak restu orang tuanya 

Manusia suka sesuatu yang rumit 

Dan aku 

Tidak suka hal yang rumit 

Hati boleh jadi cinta 

Tapi tetap pergunakan otakmu untuk melangkah. 

Hidup ini pilihan 

Kamu pilih otakmu 

Atau hatimu 

Simpel 

Jangan pernah 

Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau bertujuan untuk mengungkit masa lalunya. Karena kamu tidak pernah tahu betapa sulitnya dia bangkit dari masa lalunya yang kelam. Betapa sulitnya dia memperbaiki masa lalu demi masa depan yang lebih baik. 

Jangan pernah menyentuh hidup seseorang jika hanya ingin menghancurkan perasaannya. Kamu tidak tahu betapa sulitnya dia mencoba memperbaiki hatinya yang terluka. 

Jangan pernah datang jika hanya akan menyakiti 

Jangan pernah katakan cinta tapi kamu sendiri tidak mengerti artinya 

Jangan pernah katakan cinta jika berprinsip untuk mencintai orang lain ketika hati masih ada yang memiliki

Pergilah bersama bahagiamu jangan pernah datang jika kamu tidak paham cinta jenis apa yang kamu rasakan ketika bersamaku, jika itu main-main. Pergi dan jangan pernah kembali. 

Jika kamu sudah mengerti apa iti cinta. Datang dan kubukakan pintu. 

Hati ini hanya untuk sesuatu yang pasti. Bukan sesuatu seolah pasti tapi sebenarnya pura-pura. 

Kepingan Hati

Kau tahu, garis langit malam melengkungkan senyum menanti fajar kan tiba mengecup hari baru selayaknya langit yang membawa goresan cerita tentang manusia

Aku menggantungkan kisah bait demi bait diatas sana, terkadang menjauh terkadang mendekat hingga kadang kudapat gapai namamu disana 

Dari wajar menjadi tidak wajar, seperti kisah sebait sajak tentang cerita silam yang sarat akan angka-angka penuh filosofi yang hanya kita yang tahu.. 

Kau terbang tinggi membawa kepingan hati kau datang membawa kepingan hati ku pagari diriku karena ketakutan ku akan badai bila kau bawa kembali kepingan hati yang sejak dulu menjadi teman setia perjalanamu selepasku.

Dara

Dara jangan kau bersedih
Ku tau kau lelah

Tepiskan keruh dunia

Biarkan mereka… Biarkan mereka…
Tenangkan hati disana

Tertidur kau lelap

Mimpi yang menenangkan

Biarkan semua… Biarkan semua…
Kurangi beban itu tetap lihat kedepan

Tak terasingkan dunia dua jiwa yang perih

Masih ada disana untuk kita berdua

Dalam hati yang menyatu tempat kita berdua
Kurangi beban itu tetap lihat kedepan

Tak terasingkan dunia dua jiwa yang perih

Masih ada disana untuk kita berdua

Dalam hati yang menyatuh tempat kita berdua

Dan jangan engkau bersedih ku tau kau lelah

Tepiskan keruh dunia… 

kau dan aku

Kau dan aku berada di dua dimensi berbeda. 

Kau bersama kabut

Aku dengan hujan 

Berdua berselimut awan 

Bersama lahirkan titik air. 

Kau dan aku menjadi satu bagian dari tubuh burung merpati 

Kau di sayap kanan 

Aku di sayap kiri 

Bersama membelah langit menantang angkasa bernyanyi bersama embun 

Kau dan aku adalah sunyi 

Sunyi yang merayap menembus dinding 

Sunyi berteman suara merdu seruling bambu 

Kau dan aku 

Adalah awal dan akhir

2017

Pintu

Aku tahu lorong itu tak mengarah ke pintu yang selalu tertutup itu. Ku berjalan menembus sunyi, kubebaskan rambutku menari bersama angin kubawa jiwaku tenggelam dalam lamunan. 

Aku mengerti kini pintu itu tak akan pernah terbuka untuk jiwa yang melayang bagai bayangan tanpa wajah. Pintu itu tak akan pernah terbuka, tak dapat kupandangi kupu-kupu yang pernah singgah sementara itu. Kembali meredup cahaya dibalik pintu itu. 

Kini kumengerti. 

Pintu itu tak akan pernah terbuka seperti sediakala. Wanginya pun memudar mengikuti arah matahari yang bersembunyi dibalik jingga. Jejaknya pun menghilang terseret badai waktu. 

Aku membelai daun pintu yang tertutup itu. Semakin hari semakin rapat. Kembali ku mencoba mendengar gema suara itu. Namun gemanya semakin memudar. 

Ku kembali dalam bayangan, menari bersama ingatan, menyimpan rapat tanpa sisa. Daun kering yang semakin kering. 

2016

Aku Butuh Lentera

Aku butuh lentera dikala aku berjalan dalam malam yang kelam 

Aku butuh lentera dikala aku dalam gelap 

Aku butuh lentera kala hujan dan badai 

Aku butuh lentera ketika matahari padam termakan masa

Aku butuh lentera didalam kebingungan semu 

Aku butuh lentera kala kabut lembah mulai turun

Aku butuh lentera tuk hangatkan hati 

Aku butuh lentera untuk menyongsong jejak itu. 

Aku butuh lentera untuk dapat melihat pelangi 

Aku butuh lentera tuk menemani ku sampai dermaga

Aku butuh lentera untuk menyusuri laut yang sunyi 

Aku butuh lentera untuk dapat melihatmu dari balik pohon 

Aku butuh lentera yang dapat mendengarkan ceritaku hingga fajar

Aku butuh lentera untuk mengisi gelas kaca itu 

Aku butuh lentera untuk dapat menulismu dalam sajak 

Aku butuh lentera untuk dapat menari bersamamu 

Aku sangat merindukan lenteraku 

Aku disini terduduk menemani bisu bercerita, bercerita tentang sebuah kertas lama, menulis dengan kayu cendana tentang lenteraku yang hilang tenggelam oleh badai hujan. 

Kini ku kehilangan lentera

Meninggalkan jiwa termenung dalam kegelapan. Duduk tanpa melakukan apa-apa. 

Diam dalam sunyi 

Menunggu pelangi 

Hingga lentera itu datang kembali.

2016

Kota tua

Ada cerita di balik temaram lampu jalanan di sebuah kota tua. Hangat bagaikan pendar lembayung kala senja. Sepasang kunang-kunang menari diantara kabut pukul dua. Menjadi lentera para pejalan kaki tuk melangkah menata hati. 

Ada cerita dibalik temaram lampu jalanan. Wangi kayu cendana dan api unggun kecil yang menerangi jalanan kota tua. Hinggapi perasaan pada setiap jiwa dalam masa pencarian, tersesat menghilang tanpa jejak. 

Riak genangan air tersapu roda kereta kuda. Aroma kayu tua berhembus meremangkan bulu roma. Mengantarkan kita pada masa dimana para pria jaman dahulu masih melinting kretek dengan cinta. 

Nostalgia kota tua, mengukir cerita dibalik tembok putih dengan ribuan jendela. Kota tua yang tengah tertidur merajut mimpi, tangan mungil itu berselimutkan lembut kain sutra. Memeluk indah kerinduan, menenggelamkan lamunan. Berharap matahari kan bersinar, pancarkan aura mistis nan bahagia. 

Berjalan dipinggir jalanan kota tua. Menerawangkan pikiran melambung menatap rembulan penuh tanya. Sepasang mata elang menatap tajam kearah jiwa yang menelungkup bisu bertanya penuh tatap. Mencoba tuk hentikan arus waktu. 

2016